Skip to main content
Proses identifikasi awal dan pengambilan sampel ikan kuwe di KJT Kelurahan Petoaha Kecamatan Nambo Kota Kendari oleh Tim Analisis BKIPM Kendari, bebrapa waktu lalu. (Foto Rinie/Cuang).

DKP Kota Gandeng BKIPM Kendari Pantau Usaha Budidaya Keramba di Nambo

Terkait Kasus Ratusan Ekor Ikan Milik Kelompok Budidaya KJT Mati di Perairan Petoaha

Menindaklanjuti laporan masyarakat kelompok pembudidaya ikan KJT (Keramba Jaring Tancap) terkait kasus kematian ikan kuwe Caranx sp di perairan petoaha, tepatnya di kawasan perairan Kelurahan Petoaha Kecamatan Nambo Kota Kendari beberapa waktu lalu, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kendari bersama Tim BKIPM (Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) Kelas II Kendari melaksanakan pemantauan sekaligus sosialisasi dan pembinaan kepada pembudidaya tentang pentingnya menjaga kualitas perairan.

Sebelumnya, Agustus 2018 kasus kematian ikan dialami oleh sekitar 30 RTP (rumah tangga pembudidaya) dengan jumlah ikan mati diperkirakan 10 ekor per hari untuk tiap Keramba Jaring Tancap (KJT) selama kurun waktu dua bulan.  Kematian ikan menyebabkan kerugian hingga Rp. 126 juta dengan asumsi harga ikan Rp. 35.000 per kilogram. Mengatasi fenomena itu, tim teknis bidang Budidaya DKP bersama  Tim BKIPM Kendari langsung melakukan monitoring ke lokasi kejadian.

Tim BKIPM yang diwakili para analis ini bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak atas kematian ikan, sekaligus memberikan arahan guna menentukan langkah-langkah yang dapat diambil.

Berdasarkan hasil pengujian sampel yang diuji oleh Analis BKIPM diperoleh lokasi perairan positif mengandung bakteri Vibrio sp.

 

 

Kualitas Perairan Sudah Kembali Normal

Anggota Tim Analis BKIPM, Hildayani, S.Pi dalam keterangannya menjelaskan bahwa hasil monitoring kualitas perairan dan investigasi di lapangan setidaknya ada tiga dugaan sementara penyebab kematian ikan tersebut, yakni terjadinya penurunan suplai oksigen bagi ikan, tingkat kekeruhan air yang tinggi disebabkan limbah makanan dan limbah rumah tangga dan lokasi KJT terlalu dangkal sementara substrat perairan berlumpur.

Lebih lanjut dikatakan, turunnya suplai oksigen disebabkan oleh terjadinya upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca yang cukup ekstrim dan berakibat adanya perbedaan suhu yang mencolok antara air permukaan dan suhu air dibawahnya, sehingga unsur hara yang berada di dasar perairan naik ke atas.

"Cuaca ekstrim telah memicu upwelling. Jadi, pergerakan massa air secara vertical ini membawa nutrient dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang," ujarnya.

 "Apalagi lokasi KJT cukup dekat dengan pemukiman sehingga limbah rumah tangga masuk ke perairan.”, tambahnya.

Melatarbelakangi hal itu, DKP melalui bidang teknis Usaha Budidaya rutin melaksanakan pembinaan sekaligus sosialisasi kepada pembudidaya agar menjaga kebersihan perairan serta mengurangi limbah yang masuk ke perairan, sehingga perairan bisa kembali murni seperti semula.

Kepala Dinas KP Kota Kendari Agus Salim Safrullah didampingi Kasi Produksi Budidaya, Moh. Ihsan A. Mansa, S.Pi dan Kasi Pengelolaan Unit Perbenihan Fitriah Firman Syah, S.Pi, MP, mengatakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya adalah kualitas air. Olehnya itu tidak bosan-bosannya kami menghimbau kepada pembudidaya ikan agar selalu menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya agar kualitas perairan tetap terjaga dan terpelihara.

  “Pembudidaya telah belajar dari pengalaman kemarin dan berdasarkan pantauan kami minggu lalu (3/1/2019), perairan telah kembali stabil serta usaha budidaya kembali berjalan normal bahkan ada beberapa pembudidaya KJT yang telah panen” tuturnya. (rinie/fitho)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.